Hubungan Istimewa Menulis dan Kesehatan Mental

Hobi menulis memang membawa banyak keajaiban, salah satunya menyehatkan jiwa. Pernah suatu hari saya ingin tertawa karena kejadian membuat kesal alhamdulilah bernilai nominal.

Ceritanya, suatu hari saya mengangkat jemuran dengan terburu2 karena hujan telah turun. Saking cepatnya menutup pintu, penutup pintu yg terbuat dari kayu turun. Otomatis saya jadi nggak bisa masuk ke rumah.

Alamak, pakaian basah kuyup, tetapi dengan penuh perjuangan menghindarkan air membasahi jemuran dalam pelukan.

Saya teriak2 memanggil ibu yg saat itu sedang menjaga kios. Tentu saja lebatnya hujan yg bersatu dengan riuh kendaraan membuat suara saya hilang seakan tertelan.

Setelah lama menyadari saya belum kembali, mungkin ibu berinisiatif.mencari.

Dengan senyum miris saya masuk rumah. Setelah agak tenang saya ceritakan kejadian tersebut dan sukses mendapatkan gelak tawa adik2 saya.

Kekesalan hari itu saya tuangkan dalam sebuah cerita pendek dan dikirimkan ke media cetak. Kira-kira sebulan setelah pengiriman saya mendapatkan notif dari teman kalau naska tersebut dimuat!

Masyaallah.

Ini adalah satu momen yang saya ingat selalu. Bahwa menulis adalah laksana terapi seperti tagline blog perdana Rekam Jejak Sang Pemimpi.

Hihi, kalau itu adalah kejadian mengesalkan tapi berujung pemasukan, ya.

Saat Menulis Kita sedang Menyibukkan Diri




Sobat pernah dengar hadis yang bilang bahwa jika kita tidak disibukkan dengan perbuatan baik, setan akan menyibukkan kita dengan perbuatan buruk sehingga kita lalai.

Nauzubillah. Nah, saat menulis kita sedang mengupayakan kebaikan pada diri kita juga kan, ya. Kita menabur pesan kebaikan yang sama pula untuk kita.

Terapi diri

Mama saya pernah bilang bahwa tiap ia sedang tidak memikirkan apa-apa ia malah jadi memikirkan segalanya. Sobat pernah mengalami hal demikian?

Jadi memang kita harus senantiasa menyibukan diri, salah satunya dengan menulis.

Sering kali saat menulis saya bisa menuangkan segala rasa dengan lebih leluasa. Bahkan banyak tulisan di sini berasal dari kegundahan hati yang alhamdulillah pernah diganjar juara dan dimuat di media.

Kita akan berhadapan setiap saat dengan yang namanya problematika kehidupan. Kalau menyerah berarti kalah dalam ujian kehidupan dan selamanya tak akan nail k3las.

Menulis sebagai terapi diri membuat sya bebas menjadi lakon apapun yang diinginkan. Seperti pada suatu hari saya ingin menceritakan diri namun enggan menunjukkan eksistensi, saya memakai karakter lain seolah sedang menceritakan kehidupannya. Sebagai penulis kita bertindak serba tahu atau POV 3 jika dalam fiksi.

Terapi pembaca blog


Saya pernah mendapatkan DM ucapan terima kasih karena naskahnya bisa dimuat di media. Ini adalah kali pertama kirim media dan langsung diganjar juara.


Pada kesempatan lain seorang teman tak sengaja mengutip makna di blog saya tentang kiat sukses tembus tes CPNS. Alhamdulillah beberapa tip yang saya bagikan ia tetapkn an dan sukses menorehkan jejak bahagia.


Tak bisa diragukan sepak terjang blog membuat saya menemukan kebaikan lain. Membuat saya mampu menularkan kebaikan pada orang lain.

Terapi orang sekitar

Pernah seorang teman kesusahan karena harus menyimpan nomor kontak baru.

“Wa-nya lama sekali muncul. Padahal lagi butuh cepat," adunya

Saya langsung ingat kalau aktivitas blogwalking beberapa saat lalu mengantarkan saya pada tulisan teman blogger tentang cara mengirim pesan wa tanpa harus menyimpan nomor penerima.

Terbukti aktivitas menulis di blog bisa memberikan dampak positif dalam kondisi darurat, ya.

Menulis untuk menjaga kesehatan mental


Saya sungguh beruntung bisa berkenalan dengan dunia tulis menulis. Saya masih ingat ketika hari itu almarhum.papa mengajak saya.membaca koran yang biasa beliau bawa dari kantor.

Baca tajuk rencana supaya kita pintar begitu kata Papa. Memang benar ternyata, sampai hari ini, meski ruang cerita anak sudah menghilang, yang namanya halaman tajuk rencana selalu ada.

Saat menulis kita seakan berkelana ke dunia yang kira cipta

Apakah sobat pernah merasa bahwa dunia tidak selalu baik? Ada saja hal-hal yang membuat diri seakan hendak lari saja. Tidak menerima situasi yang ada.

Sebagai manusia, rasa ini wajar. Misal, saat banyak tugas meminta banyak fokus untuk dikerjakan dalam satu waktu. Solusinya sebenarnya mudah. Jangan menunda, kerjakan tugas sedikit demi sedikit atau sekaligus, ubah lagi manajemen waktu buruk.

Jika kita berangkat pada hal ini, sangat terbuka kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Saat menulis kita belajar berbagai hal baru

Sama seperti ketika saya hendak membuat tulisan untuk diikutsertakan pada lomba blog. Saya harus riset dengan maksimal untuk memperbesar peluang kemenangan. Juga untuk mengerjakan artikel post sponsored, tentu butuh riset agar semakin mengenal produk yang direviu.


Saat menulis kita dituntut untuk memanajemen waktu dengan baik


Tak ada alasan untuk berhenti berkarya meski kondisi sedang tidak kondusif. Kita bisa saja dihujani banyak tugas. Kita bisa saja fokus pada satu tugas dan mengabaikan tugas lain. Sayangnya, saat terlibat dalam beberapa amanah, saya tidak bisa memilih tetapi harus mengerjakan dalam satu waktu. Bilamana satu urusan lebih penting, itu bisa dikerjakan tanpa perlu menjadi orang lain.


Saat menulis kita bisa mengubah pola pikir untuk masa depan


benar saja saat riset menemukan ide untuk menulis artikel blog saya sering kali menemukan banyak pemikiran baru dari teman blogger lainnya. Malah bisa jadi itu adalah hal pertama kalinya.


Menulis memang bisa membawa kita pada hal-hal terduga yang setelah ditelusuri lebih dalam ternyata itu berdampak baik bagi karier kepenulisan kita.


Saat menulis kita tidak sedang ingin menjadi orang lain


Yap! Menulis bisa menjadi wahana paling jujur untuk kita mengungkapkan apa yang selama ini bisa jadi belum tersampaikan dengan baik. Kita bisa menuliskan apa apa yang mengganjal di hati tanpa perlu takut dihakimi.


Kelak dari tulisan-tulisan semacam ini kita bisa menjadikannya sebagai pembuka tulisan untuk diikutsertakan dalam kontes blog. Tentu saja akan menjadi unik karena tak ada kisah umat manusia di muka bumi yang persis sama


Penutup


Jika banyak orang yang setuju bahwa menulis adalah salah satu cara menjaga kesehatan mental bagi perempuan, saya pun demikian. Menulis mampu membuka cakrawala saya lebih luas lagi. Menulis juga bisa memperkenalkan saya pada banyak kebaikan baru. Jika hari ini aktivitas menulismu masih terkesan maju mundur kayak undur-undur bolehlah di upgrade yaa

Ohya, saat ini Kumpulan Emak2 Blogger sedang mengadakan tantangan menulis 1000 kata per hari sejal tanggal 19-25 Oktober. Ini juga menjadi sarana healing karena apa yang disebut hiburan bukan harus kita lakukan di luar ruangan dan dengan biaya terjangkau.

menulis juga mempertem saya dengan peluang-peluang lain seperti menjadi mentor kelas blog dasar sebuah komunitas.

Sobat lagi nulis apa, nih? Apakah setuju dengan ungkapan menulis bisa jaga kesehatan mental? Yuk, berbagi inspirasi di kolom komentar!



#YukNgeblogLagi
#NgeblogAsyikBarengKEB

Karunia Sylviany Sambas
Karunia Sylviany Sambas Saya adalah seorang tenaga kesehatan yang suka menulis, membaca dan mempelajari hal-hal baru. Alamat surel: karuniasylvianysambas@gmail.com

Posting Komentar untuk "Hubungan Istimewa Menulis dan Kesehatan Mental"